Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2009

BOEDIONOMICS


Artikel ini Cuplikan dari Republika (9/6) dengan judul 'BOEDIONOMICS'

Ada tiga sektor yang menjadi fokus Boediono dalam pembangunan ekonomi ke depan. Seperti disampaikannya saat berkunjung ke redaksi Republika, Senin (8/6), di Jakarta. Boediono berusaha menyeimbangkan dua sejoli tumpuan perekonomian, hard infrastucture dan soft infrastucture.

1. Infrastuktur
Ini menjadi fokus dan kunci untuk melanjutkan pertumbuhan ekonomi. Sejak 11 tahun terakhir, sektor ini pas-pasan, bahkan tertinggal dibanding negara Asia. Sektor listrik, pembangunan jalan, kereta api, dan sarana/prasarana infrastruktur lainnya (hard infrastructure) berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

2. Pelayanan Masyarakat
Sesuai slogan pemerintah bersih, pelayanan masyarakat (soft infrastructure) menjadi poin penting berikutnya. Pengurusan tanah, KTP, dan hal remeh lainnya ternyata berimbas ke dunia usaha. Perbaikan ini harus sejalan dengan pembangunan infrastruktur fisik. Soft dan hard infrastructure merupakan dua sejoli tumpuan perekonomian.

3. Intervensi negara untuk kesejahteraan rakyat
Intervensi ini terutama ditujukan untuk kepentingan masyarakat berpenghasilan rendah. Dana APBN harus dipakai untuk keperluan masyarakat luas, seperti pembangunan jalan di wilayah pelosok, bantuan langsung tunai (BLT), PNPM, Raskin, KUR, Program Keluarga Harapan, dsb.

Bagaimana dengan Ekonomi Syariah?

"Ekonomi syariah merupakan opsi yang serius bagi ekonomi kita," kata Boediono, saat berkunjung ke redaksi Republika, Senin (8/6), di Jakarta.

Bahkan ekonomi syariah bisa menjadi kunci Indonesia keluar dari pengaruh krisis keuangan global saat ini. Salah satu sebabnya, sistem ekonomi berbasis nonribawi itu pro-sektor riil. Dibandingkan sistem ekonomi konvensional, Boediono mengakui transaksi dalam sistem ekonomi syariah dilandaskan pada kegiatan perekonomian yang konkret. Ini tentu berbeda dengan sistem konvensional yang boleh mendasarkan aktivitasnya pada transaksi derivatif.

’Kaitan dengan pembangunan di sektor riil lepas,’ katanya. Sementara itu, sistem ekonomi syariah dilandasi pada sektor riil.

Konsep bagi hasil (risk sharing) tanpa menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada debitor, menurut mantan gubernur Bank Indonesia ini, juga sebagai konsep yang mestinya diikuti perbankan konvensional.

Konsep ekonomi syariah pun tak mengenal kesenjangan antara sektor riil dan finansial. Bila di ekonomi konvensional dua sektor ini bisa berjalan tak seiring, di ekonomi syariah ada jembatan berupa bagi hasil atau sewa.

’Seringkali terjadi dana hanya berputar-putar di sistem keuangan derivatif, tanpa turun ke sektor riil. Ini tidak ter jadi di ekonomi syariah karena konsep bagi hasil itu,’ jelasnya. Bahkan, sistem bagi hasil ini telah diterapkan di proyek infrastruktur.

Melihat perkembangan saat ini, ekonomi syariah bisa berpotensi lebih besar lagi. Pertumbuhan ekonomi syariah, diukur dari perkembangan perbankan syariah saat ini, baru sekitar dua persen.

’Ekonomi syariah harus dimulai dari tingkat usaha mikro, kecil, dan menengah (UM KM),’ jelas Boediono.

Tapi, mantan menko Perekonomian ini mencermati, perkembangan ekonomi syariah jangan sebatas jor-joran pembukaan cabang perbank ansyariah di mana-mana. Pertumbuhan cabang harus diimbangi dengan kualitas layanan dan produk syariah.

’Landasan pertumbuhan ekonomi syariah harus rasional. Jangan sekadar mendirikan bank-bank perkreditan rakyat syariah, tapi nanti mati di tengah jalan. Kalau terjadi, yang rugi syariah juga. Kompetisi di antara pelaku ekonomi syariah juga harus sehat. Dan, jangan ada hambatan. Jangan juga terlalu ekstrem, nanti mandek.’

Sejak menjadi menkeu di Kabinet Gotong Royong, Presiden Megawati Soekarno putri, Boediono mengaku selalu mendukung perkembangan ekonomi syariah. Kebijakan ini ia lanjutkan ketika menduduki kursi menko Perekonomian dan gubernur Bank Indonesia. ’Saya yakin ekonomi syariah bisa menandingi ekonomi konvensional.’



Menakar Elektabilitas Pasangan Calon Presiden/Wakil Presiden

LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) telah melaksanakan Survei Telepon (Telepolling) mengenai Preferensi Politik Masyarakat Menjelang Pemilu Presiden 8 Juli 2009. Responden dari telepolling ini adalah masyarakat pengguna telepon rumah tangga di 15 kota besar di Indonesia meliputi Jakarta, Surabaya, Malang, Semarang, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Medan, Padang, Palembang, Makassar, Manado, Balikpapan, Banjarmasin, dan Denpasar.

Survei dilaksanakan dengan metoda wawancara melalui telepon, tidak dimaksudkan untuk mewakili pendapat masyarakat secara umum, melainkan mereka para pengguna telepon rumah tangga di 15 kota besar di Indonesia yang menjadi lokasi survei sebagaimana disebutkan di atas. Pengumpulan data dilaksanakan pada 3 – 4 Juni, berhasil menjaring sebanyak 1.994 responden yang ditentukan secara acak sistematis (systematic random sampling) berdasarkan buku telepon residensial yang diterbitkan PT Telkom. Ambang kesalahan (margin of error) dari survei ini diperkirakan +/- 2% pada tingkat kepercayaan 95%.

Berikut ini adalah temuan pokok telepolling LP3ES.

1. Elektabilitas Pasangan Capres/Cawapres
1.1. Pasangan SBY-Boediono Masih Unggul
Memasuki pekan kedua bulan Juni, dimana Pemilu Presiden tinggal tersisa 30 hari lagi, pasangan SBY-Boediono masih memimpin dengan 54,9% dukungan. Angka keterpilihan yang diperoleh pasangan ini di 15 kota besar di Indonesia ini jauh mengungguli kedua pasangan kandidat lainnya yakni Megawati-Prabowo (9,7%) dan JK-Wiranto (6,8%). Namun demikian, perolehan ini dimungkinkan berubah karena masih terdapat sekitar 27% masyarakat yang tidak terbuka dengan pilihannya.
Grafik 1).

1.2. SBY, JK, dan Prabowo sebagai Figur Penentu Pilihan
Selalu ada figur kunci diantara ketiga pasangan kandidat Capres/Cawapres yang ada. Pada pasangan SBY-Boediono, misalnya, pilihan masyarakat yang mendukung pasangan ini lebih dikarenakan figur SBY (72,5%) ketimbang Boediono (2,2%). Demikian pula pada pasangan JK-Wiranto, mereka yang mendukung pasangan ini lebih dikarenakan figur JK (63,2%) ketimbang Wiranto (7,%). Sementara pada pasangan Megawati-Prabowo, dukungan terhadap kedua figur relatif berimbang, meskipun nampak bahwa figur Prabowo lebih menjadi penentu pilihan (35,4%) ketimbang Megawati (32,3%). (Grafik 2).

1.3. Pendukung Partai Demokrat Solid, Golkar dan PDI-P Terbelah
Jika dilihat dari partai-partai utama penyokong koalisi pasangan Capres/Cawapres, nampak bahwa pendukung Partai Demokrat di 15 kota solid (79,9%) akan memilih SBY-Boediono. Hal yang sama tidak terjadi pada pendukung Partai Golkar dan PDI-P yang mengalami polarisasi pilihan. Diantara pendukung Partai Golkar, misalnya, kurang dari separuh (44,9%) yang akan memilih JK-Wiranto, sementara pendukung PDI-P yang akan memilih Mega-Prabowo ada sebanyak 58%. Dalam situasi ketidaksolidan para pendukung partai ini, pasangan SBY-Boediono diuntungkan karena “menerima” limpahan suara yang cukup signifikan dari pendukung Golkar (25,2%) dan PDI-P (17,2%).

Polarisasi pilihan juga terjadi pada pendukung PKS dan PAN. Meskipun pilihan terbanyak ditujukan kepada SBY-Boediono, tetapi pasangan JK-Wiranto juga mendapatkan dukungan yang relatif signifikan dari kedua partai pendukung koalisi SBY-Boediono ini. (Tabel 1).

2. Citra dan Latarbelakang Atribut Pasangan Kandidat
2.1. Masyarakat menilai Pasangan SBY-Boediono: Programnya paling berpihak rakyat, paling bersih KKN, dan paling peduli rakyat kecil.

Survei LP3ES hendak menjaring pandangan masyarakat terhadap ketiga pasangan Capes/Cawapres dalam kaitannya dengan program yang pro-rakyat, kebersihan dari KKN, dan sikap peduli rakyat kecil. Hasil survei menunjukkan, masyarakat pengguna telepon di 15 kota menilai bahwa pasangan SBY-Boediono unggul atas ketiga citra tersebut; dimana pasangan ini mereka nilai sebagai pasangan yang programnya paling berpihak kepada rakyat, paling bersih dari KKN, dan paling mencerminkan sikap peduli terhadap rakyat kecil dibandingkan kedua pasangan Capres/Cawapres lainnya. (Grafik 3).

2.2. Sejumlah Isu mengenai Neolib, Kombinasi Jawa-Luar Jawa dan Istri-Istri Pasangan yang Berjilbab Tidak Mempengaruhi Pilihan

Masyarakat pengguna telepon di 15 kota juga tidak terpengaruh dengan sejumlah isyu yang beredar terkait dengan latar-belakang padangan kandidat, seperti isyu kombinasi Jawa-Luar Jawa, istri-istri yang berjilbab, dan paham ekonomi liberal (neolib); meskipun untuk isyu yang terakhir ini komposisi antara yang terpengaruh atau tidak terpengaruh hampir berimbang –selisih 10,3 persen poin.
(Grafik 4).

Jika dikaitkan dengan pilihan terhadap pasangan Capres/Cawapres, nampak bahwa mereka yang memilih pasangan JK-Wiranto dan Mega-Prabowo adalah mereka cenderung menimbang isyu paham ekonomi liberal (neolib) dalam menentukan pilihannya. Sementara untuk isu istri-istri yang berjilbab, pada umumnya tidak menjadi pertimbangan diantara pendukung Capres/Cawapres dalam menentukan pilihan, bahkan diantara pendukung pasangan JK-Wiranto sekalipun. Demikian pula dengan isyu mengenai latarbelakang Jawa-Luar Jawa, juga tidak menjadi pertimbangan diantara mereka. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ketiga isu ini –terutama mengenai istri-istri yang berjilbab dan kombijasi Jawa-Luar Jawa, merupakan isu yang kontraproduktif. (Grafik 5).

3. Penilaian terhadap Kinerja SBY-JK dan Pilihan Politik Masyarakat
3.1. Kinerja SBY-JK dinilai relatif baik oleh Masyarakat
Kinerja SBY-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini dinilai relatif baik oleh masyarakat pengguna telepon di 15 kota, meskipun selang kepuasan mereka terhadap SBY sebagai Presiden relatif lebih tinggi (72,2%) dibandingkan JK sebagai Wakil Presiden (46,5%). (Grafik 6).

Lalu, bagaimana sebaran pilihan politik mereka? Mereka yang puas baik terhadap kinerja SBY maupun JK sebagian besar (60,1%) memilih pasangan SBY-Boediono. Mereka yang tidak puas terhadap SBY tetapi puas terhadap JK cenderung akan memilih JK-Wiranto (39%) dan Mega-Prabowo (28,6%). Yang puas terhadap kinerja SBY tapi tidak puas kinerja JK akan memilih SBY-Boediono (79,6%). Yang mengejutkan, diantara mereka yang tidak puas baik kepada SBY maupun JK, pasangan SBY-Boediono juga mendapatkan dukungan yang signifikan (25,9%) meskipun dukungan tertinggi kelompok ini mengalir kepada Mega-Prabowo (28,6%). (Grafik 7). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mereka tidak puas terhadap kinerja SBY-JK tetapi ketika dihadapkan pada pilihan figur-figur pasangan yang terbatas, SBY-Boediono kembli mereka timbang sebagai Capres/Cawapres pilihan selain Mega-Prabowo.

3.2. Pilihan Politik berdasarkan Kondisi Ekonomi
Jika pada Pemilu Legislatif April 2009 lalu kondisi ekonomi memengaruhi pilihan, dimana mereka yang merasa kondisi ekonominya lebih baik cenderung memilih Partai Demokrat dan sebaliknya yang kondisi ekonominya memburuk cenderung memilih PDIP; pilihan politik masyarakat untuk Pemilu Presiden nampaknya berbeda. Hasil survei menunjukkan bahwa pasangan SBY-Boediono mendapatkan dukungan yang relatif merata baik dari mereka yang kondisi ekonominya membaik, sama saja, atau buruk. (Grafik 8).

Untuk informasi lebih lanjut harap menghubungi:
Fajar Nursahid, Kepala Divisi Penelitian LP3ES
0815-8049385 / (021) 567-4211, fajar@lp3es.or.id

sumber: www.lp3es.or.id

Untuk melihat hasil Telepolling lengkap, silahkan download di sini


Selasa, 09 Juni 2009

Pak Boediono yang Saya Kenal

satu lagi artikel tentang Cawapres Boediono.

Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal Oleh Faisal Basri
14 Mei 2009

Saya pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an lewat buku-bukunya yang enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir 1970-an. Kalau tak salah, judul-judul bukunya selalu diawali dengan kata "sinopsis," ada Sinopsis Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, Sinopsis Ekonomi Moneter, dan Sinopsis Ekonomi Internasional. Kita mendapatkan saripati ilmu ekonomi dari buku-bukunya yang mudah dicerna.

Pada suatu kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya untuk merevisi buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih serius sehingga bisa menghasilkan buku teks yang lebih utuh. Kala itu saya menangkap keinginan kuat Pak Boed untuk kembali ke kampus dan menyisihkan waktu lebih banyak menulis buku. Karena itu, ia tak lagi berminat untuk kembali masuk ke pemerintahan setelah masa tugasnya selesai sebagai Menteri Keuangan di bawah pemerintihan Ibu Megawati.

Pak Boed dan Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko Perekonomian) bekerja keras memulihkan stabilitas ekonomi yang "gonjang-ganjing" di bawah pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup mengesankan. Pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan terus menerus. Di tengah hingar bingar masa kampanye seperti dewasa ini, Ibu Mega ditinggalkan oleh wapresnya, dua menko, dan seorang menteri (Agum Gumelar). Ternyata perekonomian tak mengalami gangguan berarti. Kedua ekonom senior ini bekerja keras mengawal perekonomian. Hasilnya cukup menakjubkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 2004 mencapai 6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga sekarang.

Selama dua tahun pertama pemerintahan SBY-JK, perekonomian Indonesia mengalami kemunduran. Tatkala muncul gelagat Pak SBY hendak merombak kabinet, sejumlah kawan mengajak Pak Boed bertemu. Niat para kolega ini adalah membujuk Pak Boed agar mau kembali masuk ke pemerintahan seandainya Pak SBY memintanya. Agar lebih afdhol, kolega-kolega saya ini juga mengajak Ibu Boed. Mungkin di benak mereka, Ibu bisa turut luluh dengan pengharapan mereka..

Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko Perekonomian. Mungkin sahabat-sahabat saya itu masih terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak Boed dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang giliran yang muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom muda untuk mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib Basri, Mas Bambang Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih atau jauh lebih muda dari saya.Interaksi langsung terjadi ketika Pak Boed menjadi salah seorang anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Saya ketika itu anggota Tim Asistensi Ekonomi Presiden (anggota lainnya adalah Pak Widjojo Nitisastro, Pak Alim Markus, dan Ibu Sri Mulyani Indrawati). Ibu Sri Mulyani memiliki jabatan rangkap (jadi bukan sekarang saja), selain sebagai anggota Tim Asistensi juga menjadi sekretaris DEN. Pak BOed tak pernah mau menonjolkan diri, walau ia sempat jadi menteri pada masa transisi.Sikap rendah hati itulah yang paling membekas pada saya. Lebih banyak mendengar ketimbang bicara.

Kalau ditanya yang "nyerempet-nyerempet," jawabannya cuma dengan tersenyum. Saya tak pernah dengar Pak Boed menjelek-jelekkan orang lain, bahkan sekedar mengkritik sekalipun.Tak berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang membantunya di kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ketegasan Pak Boed ketika hendak memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang sampai sekarang terkatung-katung. Suatu waktu menjelang lebaran, Pak Boed dan sejumlah staf serta, kalau tak salah, Menteri Keuangan dipanggil Wapres.

Sebelum meluncur bertemu Wapres, Pak Boed wanti-wanti kepada seluruh stafnya agar kukuh pada pendirian berdasarkan hasil kajian yang mereka telah buat. Pak Boed sempat bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: "Tak ada yang konflik kepentingan, kan? Ayo kita jalan, Bismillah . Keesokan harinya, saya membaca di media massa bahwa sekeluarnya dari ruang pertemuan dengan Wapres, semua mereka berwajah "cemberut" tanpa komentar satu kata pun kepada wartawan.Adalah Pak Boed pula yang memulai tradisi tak memberikan "amplop" kalau berurusan dengan DPR. Tentang ini, saya dengar sendiri perintahnya kepada Mas Anggito.Ada dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa dengan Pak Boed. Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Pak Boed masih Menteri Keuangan.

Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed dijemput oleh Ibu. Dari kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri mobil tua mereka.Kedua, saya dan isteri sekali waktu bertemu Pak Boed dan Ibu di Supermarket dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak Boed mendorong keranjang belanja. Rasanya, hampir semua orang di sana tak sadar bahwa si pendorong keranjang itu adalah seorang Menko.

Banyak lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai kalangan. Kemarin di bandara Soekarno Hatta setidaknya dua orang (pramugara dan staf ruang tunggu) bercerita pada saya pengalaman mengesankan mereka ketika bertemu Pak Boed. Seperti kebanyakan yang lain, kesan paling mendalam keduanya adalah sikap rendah hati dan kesederhanaannya.Dua hari lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat tinggi BI. Ia mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai fasilitas yang memang terkesan serba "wah." Dengan tak banyak cingcong, ia mencoret banyak item di senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed juga menolak mobil dinas baru BI sesuai standar yang berlaku sebelumnya. Entah apa yang terjadi, jangan-jangan mobil para deputi dan deputi senior lebh mewah dari mobil dinas gubernur.Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu tergolong sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia menyaksikan sendiri kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh.Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF, simbol Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan miring lainnya. Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi Pak Boed. Kali ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari sosok Pak Boed yang kian terasa langka di negeri ini.Maju terus Pak Boed. Doa kami senantiasa menyertai kiprah Pak Boed ke depan, bagi kemajuan Bangsa.

Beberapa tanggapan di milist:

Saya setuju dgn tulisan Faisal Basri.Benar pak Boed adalah seorang yg sederhana, selalu senyum dan selalu mampu memberi penjelasan yg sederhana atas hal2 yg complex.Semasa kuliah, putri dari pak Boed adalah adik kelas saya. Seorang wanita cantik yg bersahaja dan bersahabat. Sedangkan saya mengenal pak Boed dari buku2 ekonominya yg mudah dimengerti.

Saya bertemu pak Boed di kampus karena dikenalkan oleh putrinya. Serta merta kami pun mendaulat pak Boed untuk berikan ceramah 1 jam. Tentunya kami hujani dgn banyak pertanyaan :D maklum msh students dan pak Boed layani pertanyaan2 dgn senyum dan penjelasan2 yg membuat kami paham. Akhirnya sesi kuliah dadakan itu molor jadi 3 jam.Tahun lalu saat saya hendak dinas ke Pekan Baru, terjadi delay pesawat lewat dari 2 jam. Akhirnya jam 9an pagi kami baru boarding. Alangkah kagetnya saya saat masuk ke pesawat, pak Boed duduk sendiri di kursi 1B sambil memberi senyum. Sama spt penumpang lain, beliau juga menunggu perbaikan pesawat (bedanya pak Boed duduk di ruang tunggu VIP). Tidak ada ajudan, pengawal, ataupun pejabat lain yg dampingi. Saat itu beliau masih menjabat Menko Ekuin. Setelah 10 tahun berlalu sama sekali saya tidak menyangka akan bertemu pak Boed lagi terutama setelah lost contact dgn putrinya after the May 1998.Demikian sharing dari saya.

Sekedar menambahkan dari pengalaman pribadi :
Anaknya P.Boed yg terakhir (cowok) adalah teman saya satu kantor. Sebelumnya saya tidak tahu kalo dia adalah anaknya P.Boed yg kala itu menjabat menjadi Menko di jaman Megawati. Bukan karena saya kuper, tapi anaknya memang sangat sederhana. Singkatnya, seperti kita2 yg tumbuh dari keluarga biasa2, bahkan terkesan "irit". Kalo sarapan ya hampir sama, Pop Mie dan dia juga masih suka jual CD ketengan di kantor, jadi beli 1 dos, lalu dijual ketengan, krn memang bidangnya IT (Programmer). Saya berpikir, kalau seandainya P.Boed seperti kebanyakan pejabat yg lain, tentu tidak rela anaknya kerja di tempat yg jauh (tidak di jakt) dan salarynya "normal". Cukup mendirikan PT INI-ITU, dan bertindak sebagai broker, tentu pendapatan anaknya ini, akan 10-100x dalam sekejap. Rumah tidak lagi kontrak.

Oya, kelupaan, waktu mash jadi kolega saya, rumahnya ngontrak, pas di sebelah rumah saya. Kalau P.Boed datang menjenguk, terutama stlh lahir cucunya, suka diem2 dan gak ada rame2. Bahkan agar pejabat daerah tidak setor muka, sering di jemput diem2 di bandara ama anaknya, pake mobil Forza buntut, beli bekas dari temen sekantor. Kalau ada pejabat daerah yg denger biasanya suka rame, dijemput ini-itu...biasa setor muka, terutama, pejabat daerah pajak, bank, dll.

Mengenai kesederhanaan, kebersajaan dan sikap rendah hati, TIDAK PERLU DIRAGUKAN. saya sebagai saksi disini. Mudah2an sikap itu tercermin juga diKEBIJAKSANAAN yg akan diambil P.Boed utk kesejahteraan masy. Indonesia. Salam,

Memang orangnya sederhana dan bersahaja gitu kok. Dulu jaman kuliah, biarpun beliau menteri, kemana-mana cuma ditemani satu ajudan/sopir. Walau jadi pejabat tinggi, orangnya tetap sederhana, tidak sombong, dan tidak meremehkan mahasiswanya. Jaman sekarang kan dosen belagunya minta ampun sama mahasiswa. Pernah di kelas kehabisan spidol, beliau sendiri turun tangga, ambil sendiri ke bagian tata usaha. Mana ada pejabat model begitu?

Pak Boediono dan Ekonomi Syariah

Tidak bisa dipungkiri, masih banyak di kalangan Kader yang masih ragu dengan sosok cawapres Boediono, apalagi beberapa opini di media masaa, seolah mengatakan bahwa beliau adalah ekonom berfaham neolib, tidak pro ekonomi rakyat, dlsb. Walaupun demikian, sebagai Kader sudah seharusnya keraguan-keraguan tsb. tidak harus menyurutkan semangatnya dalam memenangkan pasangan SBY-Boediono, karena Majlis Syuro -sebagai pengambil keputusan tertinggi- sudah memutuskan berkoalisi dengan PD.

Tulisan berikut-Rubrik Resonansi Koran Republika 20 Mei 2009-mudah-mudahan menambah wawasan para Kader tentang sosok Boediono.


Tepuk tangan bergema di Gedung Chandra, Bank Indonesia, Selasa, 23 Desember
2008. Malam itu, dalam pelantikan Masyarakat Ekonomi Syariah, Gubernur Bank
Indonesia, Boediono, memberikan pernyataan melegakan. ''Jangan ada keraguan,
BI akan mendukung perkembangan ekonomi syariah.''

Untuk memperkuat pernyataannya, Pak Boed kemudian menyebut dua nama Deputi
Gubernur BI yang duduk sebagai pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES)
2008-2011. Pertama, Siti Halimah Fadjrijah, sebagai wakil ketua Dewan Penasihat dan Muliaman D Hadad sebagai ketua umum MES. Tepuk tangan para tokoh ekonomi syariah dan pengurus MUI yang hadir malam itu, kembali bergemuruh.

Pak Boed tidak sedang menyenangkan hati tokoh-tokoh Islam yang hadir ketika itu. Ia paham soal ekonomi syariah. Ketika memberikan sambutan pada Festival Ekonomi Syariah yang dibuka Presiden SBY, Februari lalu, Pak Boed bahkan menyerukan perbankan konvensional meneladani perbankan syariah dan mengajak mereka kembali ke *khittah* .

Alasannya, krisis keuangan yang melanda dunia saat ini, antara lain disebabkan munculnya produk-produk keuangan spekulatif yang berisiko tinggi. Produk-produk ini tidak memiliki pijakan, instrumen keuangan semakin terlepas dari *underlying transaction* . Akibatnya, menjadi gelembung, membesar, dan akhirnya pecah. Krisis keuangan pun terjadi menghantam semua negara.

Ini berbeda dengan perbankan syariah. Menurutnya, sejak awal sistem ekonomi syariah, terutama perbankan syariah, tidak memperkenankan produk bersifat spekulatif. Prinsip syariah memberikan landasan bagi pengelolaan ekonomi yang sehat, yang didasari nilai-nilai universal, yaitu wajar, adil, dan transparan dalam mencapai kesejahteraan bersama. Sistem ini pun sangat tahan krisis.

BI memang serius mendorong ekonomi syariah. Selama 2008, dua undang-undang disahkan, yakni UU tentang Surat Berharga Syariah Nasional (SBSN) dan UU Perbankan Syariah. Landasan hukum ini, menurut Boediono, memberikan basis yang kuat dan ruang lebih jelas bagi penyusunan konsep pengaturan yang sesuai karakteristik perbankan syariah.

Kini, Pak Boed--menteri masa Pak Habibie, Megawati, dan SBY--dipilih bakal calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai calon wakil presiden. Banyak harapan padanya, terutama meningkatkan perekonomian nasional dan menjadikan Indonesia lebih sanggup dan bermartabat.

Seperti, ketika ia berkata pada Juli 2003 lalu: ''Siapa pun yang dipilih pada pemerintahan mendatang, kita berharap mendapatkan estafet dalam bentuk ekonomi yang *on going* , ekonomi yang berjalan baik. Jangan ekonomi bobrok yang diserahkan. Ini adalah kepentingan kita semua untuk menjadi referensi, meskipun kita bersilang pendapat.''

Kamis malam, 27 April 2006, di Tanah Suci Makkah, setelah thawaf, Presiden dan Ibu Ani SBY, sejumlah menteri, termasuk Pak Boed, dan semua rombongan secara bergantian, Alhamdulillah, memasuki Ka'bah. Entah apa doa Pak Boed ketika itu, tapi ia kelihatan khusuk. Di Madinah, setelah umrah, rombongan diperkenankan pula masuk ke dalam makam Rasulullah SAW. Alhamdulillah ....

Di Abu Dhabi, dalam rangkaian lawatan Presiden di lima negara Timur Tengah itu, kami bertemu Pak Boed di kompleks pertokoan Marina. Ia tidak terlihat seperti seorang menteri dengan pengawalan ajudan. Di sini, Pak Boed, yang dikenal sederhana, membeli tiga baju obralan seharga 80 dirham (sekitar Rp 198 ribu).

Ketika kami bertanya, Menko Perekonomian yang berprinsip 'jangan mengambil yang bukan hak' itu menjawab enteng, '' *Nggak* apa-apa *dong* menteri pakai baju obral. Dapat tiga baju seharga 80 dirham, murah kan ,'' katanya berlalu, sambil menenteng tas plastik. Pak Boed apa adanya dan kita berharap jika nanti terpilih, ia tidak berubah, termasuk komitmennya terhadap ekonomi syariah.

Asro Kamal Rokan


Jumat, 05 Juni 2009

ANGGOTA DPR RI DARI JAWA BARAT

Berikut ini Angota DPR RI PKS periode 2009-2014 yang berasal dari Daerah Pemilihan Jawa Barat,
JABAR 1 (Cimahi, Bandung):
1. Drs. H. Suharna Surapranata, MT. (36.515 suara)
2. Hj. Ledia Hanifa Amaliah, S.Psi, M.Psi.T (28.228 suara)

JABAR 2 (Bandung, Bandung Barat):
1. H. Ma’mur Hasanuddin, MA (40.472 suara)

JABAR 3 (Cianjur, Kota Bogor):
4. H. Ecky Awal Mucharam, SE. (24.750 suara)

JABAR 4 (Sukabumi):
1. Ir. H. Yudi Widiana Adia, M.Si (37.114 suara)

JABAR 5 (Kabupaten Bogor):
1. H. TB. Soenmandjaja, SD (29.071 suara)

JABAR 6 (Bekasi, Depok):
1. Mahfudz Abdurrahman (72.409 suara)

JABAR 7 (Karawang, Bekasi):
1. Drs. Arifinto (38.871 suara)

JABAR 8 (Indramayu, Cirebon):
1. Drs. Mahfudz Sidik, M.Si (36.583 suara)

JABAR 9 (Subang, Sumedang, Majalengka):
1. Nur Hasan Zaidi, S.Sos.I (33.223 suara)

JABAR 10 (Kuningan, Banjar, Ciamis):
1. DR. Surahman Hidayat, MA. (42.446 suara)

JABAR 11 (Garut, Tasikmalaya) :
1. Kemal Azis Stamboel (35.165 suara)

Selamat Berjihad di Parlemen, amanah Da'wah dan amanah Ummat di pundak Anda semua.

Selasa, 19 Mei 2009

Rakor BPK

selama 2 hari, sabtu-ahad, 16-17 mei 2009, bertempat di DPW BPK DPW dengan BPK DPD se Jawa Barat melakukan Rapat Koordinasi Bidang Pembinaan Kader.
sudah merupaka siklus 5 tahunan bagi kita (PKS), setelah pemilu (ekspansi) kita kembali pada tarbiyah (edukasi), bukan berarti saat pemilu kemarin kita tidak melakukan aktivitas tarbiyah, tapi dipungkiri atau tidak kesibukan dalam aktivitas politik kemarin telah melupakan tarbiyah.

jujur saja, banyak di antara kita yang meninggalkan atau membatalkan liqo karena rapat kordapil atau ada temu tokoh atau ada pertemuan dengan konstituen. kalaupun liqo berjalan, itupun tidak lebih dari 2 jam, jangan tanya baromij liqo-nya, berjalan atau tidak.

apakah perolehan suara pada pemilu sekarang juga karena faktor ini, tidak mustahil! mungkin ini peringatan dari Allah, supaya kita tidak lebih jauh meninggalkan tarbiyah.

baik, kembali ke info acara. acara dibuka dengan taujih oleh ketua DPW Jabar Ust. Taufiq ridho, beliau memaparkan kronologis alotnya koalisi dengan sby kemarin, banyak hal yang mentebabkan kita hampir keluar dari koalisi. selain itu, beliau juga menyampaikan salam dan ucapan terima kasih dari ust. Hilmi Aminuddin kepada seluruh kader yang telah mengerahkan seluruh potensinya dalam perolehan suara pada pemilu kemarin.

acara berikutnya, taujih dari BPK DPP disampaikan oleh ust. Ahmad Zaenuddin, yang mengingatkan kepada kita pentingnya ri'ayah tarbawiyah pasca pemilu. setelah itu acara inti, pembahasan problem-problem tarbiyah di tiap dpd, mulai dari pertumbuhan kader yang stagnan, optimalisasi wajihah ammah yang belum ideal, wasail tarbawiyah yang belum dilaksanakan sepenuhnya, dll.

hari ahad-nya, rekomendasi-rekomendasi dari problem-problem yang dibahas di atas. acara diselingi pembacaan matsurat kubro bersama dan futsal.

mudah-mudahan acara ini sebagai bukti komitmen kita dalam menegakkan dakwah ini.

Jumat, 15 Mei 2009

Penetapan Caleg Terpilih

Hari Jum'at tanggal 15 Mei 2009, mulai pukul 08.00 s.d. 11.15 bertempat di Gedung Juang Tasikmalaya, KPU Kota Tasikmalaya menyelenggarakan Rapat Pleno Penentuan Perolehan Kursi dan Penetapan Caleg Terpilih.

Alhamdulillah, acara berjalan lancar, walau pengamanan cukup ketat, tidak seperti ketika Pleno Rekapitulasi Perolehan Suara yang diwarnai demonstrasi dari berbagai elemen masyarakat.

Tidak ada keberatan sedikitpun dari parpol mengenai perolehan kursi dan penetapan caleg terpilih. Sebagaimana sudah diinformasikan di artikel sebelumnya, PKS Kota Tasikmalaya mendapatkan 4 kursi, masing-masing DP mendapat 1 kursi.

Hadir dari PKS dalam rapat pleno tersebut Ketua DPD ust. Heri Ahmadi, Pak Dede Kurnia (mewakili sekretaris) dan Urip Widodo sebagai saksi.

Jumat, 08 Mei 2009

Pengurus PKS Kota Tasikmalaya

Berikut adalah nama-nama pengurus PKS Kota Tasikmalaya :

MPD (Majlis Pertimbangan Daerah)
• Ketua : Dede Muhammad Muharam
• Sekretaris : Sutrisno, SPd.

DSD (Dewan Syari’ah Daerah)
• Ketua : Syarif Hidayatullah, SAg.
• Sekretaris : Dede Kurnia, AMd.

DPD (Dewan Pengurus Daerah)
• Ketua : Heri Ahmadi, BA.
• Sekretaris : Wahyudin
• Bendahara : Eno Suwaryono Syakur, BSc.
• Kabid Pembinaan Kader : Agus Setiawan
• Kabid Pembinaan Pemuda : Tata Hadiansyah
• Kabid Ekuintek & Kesra : Budhi Djauhari, SKomp.
• Kabid Polhukam : Maulana Jannah, SHI.
• Kabid Kewanitaan : Hani Handini

Kamis, 19 Maret 2009

DPD PKS KOTA TASIKMALAYA : "KAMI HADIR"

assalamu 'alaikum wr. wb.

"KAMI HADIR !! ya..

Mulai hari ini Kami hadir ingin memperkenalkan diri kepada masyarkat luas, khususnya warga Kota Tasikmalaya. Karena kata istilah "kalau tak kenal maka tak akan sayang" dan "kalau tak kenal maka ta'aruf dong...". Ya, Kami ingin disayang oleh masyarakat, ingin dicintai, ingin didukung, ingin dipilih tentunya.

Mulai hari ini Kami hadir untuk menceritakan atau mengabarkan berbagai aktivitas Kami kepada para kader, simpatisan dan masyarakat Kota Tasikmalaya. PKS punya slogan: Bersih, Peduli dan Profesional, dan slogan tersebut dijabarkan dalam berbagai aktivitas, mulai aktivitas yang dikelola Bidang pembinaan Kader, Bidang Kewanitaan, Bidang Pembinaan Pemuda, Bidang Ekonomi dan bidang-bidang yang lainnya. (tentang garapan bidang-bidang tersebut nanti akan dijelaskan dalam tulisan berikutnya)

Sudah lama Kami ingin punya media yang menyambungkan Kami dengan para kader, simpatisan dan masyarakat luas, tetapi keterbatasan dana dan pengelola, membuat sampai saat ini belum terealisir. Tapi alhamdulillah tiba-tiba (tadi malam) ada ide, kenapa nggak bikin Blog saja? walau yang bisa akses internet masih terbatas, tapi lumayan lah, kalau di promosikan mungkin banyak juga yang mengunjungi, selain itu pengunjung bisa langsung memberikan komentarnya kepada Kami, baik usul, saran, nyumbang ide, kritik ataupun marah-marah, sehingga Kami bisa meresponnya.

Baik saudara....
Mungkin sekian dulu pembukaannya ya....
Maklum ini hostingan pertama, coba-coba bikin blog langsung buat medianya PKS-Kota Tasikmalaya.

Bagi pengunjung, Kami mengharapkan kritik, saran dan ide untuk Blog ini ya...
Mudah-mudahan berguna bagi Kita semua. Amin...

wassalamu 'alaikum wr. wb.

pengelola Blog PKS-Kota Tasikmalaya
Abu Kamal