Bagaimana pandangan ustad Hilmi Aminuddin, Lc. (Ketua Majlis Syuro) dan ustad Anis Matta, Lc. (Sekjen DPP) tentang Peranan Pemuda?
Silahkan download saja.
1. Taujih Ust. Hilmi Aminuddin, Lc klik di sini
2. Taujih Ust. Anis Matta, Lc. klik di sini
mudah-mudahan bermanfaat
Selasa, 21 Juli 2009
Rabu, 15 Juli 2009
Dialog Anis Matta dgn. TVRI

Saat Kampanye sebelum Pemilu Legislatif, Iklan PKS cukup menuai kontroversi.
Berikut penjelasan ustad Anis Matta kepada TVRI, terkait iklan tersebut dan isu-isu yang lainnya.
Silahkan klik saja untuk mendownload film wawancaranya, maaf dibagi dalam beberapa bagian supaya mudah downloadnya.
1. bagian 1, klik di sini
2. bagian 2, klik di sini
3. bagian 3, klik di sini
4. bagian 4, klik di sini
5. bagian 5, klik di sini
semoga bermanfaat.
Jumat, 19 Juni 2009
Info untuk para Anggota Dewan
Senin, 15 Juni 2009
Kembali Kepada Idealisme Da’wah
Ta’shil Da’awi artinya (orisinilitas da’wah): Menjaga kemurnian atau keaslian da’wah. Dalam pengembangan da’wah, orisinilitas harus selalu terjaga dan terpelihara, sehingga memiliki landasan yang kuat dan kokoh untuk terus bergerak. Dan da’wah sangat terkait dengan takwin, maka ketika kita bicara pada tataran konsep, kader dan aktivis harus berpegang teguh pada idealisme da’wah. Karena seberat apapun ujian dalam da’wah, selama kader memiliki pegangan yang kuat dalam melangkah, maka idealisme da’wah akan tetap terjaga dan terpelihara. Karenanya kita harus memahami tentang Ta’shil Da’awi (orisinilitas dalam da’wah).
Keberhasilan kader dan aktifis menjaga Ta’shil Ad Da’awi akan memberikan kekuatan yang sangat penting dalam takwin (pengembangan) dan kemenangan da’wah. Karenanya kader dan aktivis perlu memperhatikan hal-hal yang prinsip dalam Ta’shil Da’awi sehingga asholah da’wah tetap menjaga. Ta’shil Ad Da’awi memiliki landasan yang kuat, dan kalau diringkas akan menjadi tiga bagian, yaitu:
Pertama, Ta’shil Syar’i kemurnian syariat). Kader dan aktifis harus kembali kepada kemurnian dan keutuhan syariat. Tidak ada fiquh da’wah tanpa fiquh syari’ah, karenanya ruang lingkup gerak da’wah harus berada dalam bingkai syari’at. Jadi, ketika kita bicara tentang syariat tidak lebih pada Ahkamul khomsah (hukum yang lima), yaitu halal, haram, wajib, makruh, dan sunnah. Setiap gerak para kader dan aktifis harus berada dalam frame Ahkamu syariah (hukum syariah) . Apakah hal tersebut wajib, sunnah, haram, makruh atau mubah.
Ketika berbicara tentang ta’shil syar’i, tidak bisa lepas dari fiquh Aulawiyah Syari’ah (skala prioritas dalam syari’ah), dengan sikap yang haram (tinggalkan), mubah (pilih sesuai dengan kemaslahatan), makruh (hindari), sunnah (tingkatkan). Dengan skala prioritas ini kita tidak disibukkan oleh hal yang mubah dengan meremehkan kewajiban atau melaksanakan yang sunnah tanpa melakukan kewajiban. Artinya, sikap yang tepat dalam menjalankan syariat adalah, memulai dari yang wajib. Jika wajib ain harus diutamakan baru menjalankan kewajiban yang bersifat kifayyah, baru menjalankan sunnah. Sunnah muakkadah lebih didahulukan daripada sunnah mandubah, baru melakukan yang mubah sebagai pilihan terakhir.
Gerak para kader dan aktifis harus terus berada dalam frame hukum syariah yang terikat dengan fiquh prioritas. Dalam konteks sekarang, kebiasaan menonton bola atau Film hukumnya bisa makruh karena menghabiskan waktu pada hal yang tidak berguna bahkan kita bisa terjebak pada haram. Dan dalam surat Al Mukminun Allah menggambarkan mengenai sifat orang mukmin yang mendapatkan kemenangan serta mewarisi surga Firdaus adalah salah satunya menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. Ingat ikhwah fillah sibuk memperdebatkan hukum tentang celana di bawah mata kaki atau diatas mata kaki adalah pembahasan yang sia-sia dan menghabiskan waktu jika di belahan bumi lain banyak saudara-saudara kita dibantai, diblokade, dan terdholimi oleh musuh-musuh islam.
Kedua, Ta’shil Al Fikri (keaslian fikroh). Kader dan aktifis harus menjaga kemurnian dan orisinilitas fikroh, konsep atau manhaj. Jadi, ketika kader dan aktifis hendak berpikir, mengemukakan wacana, berpendapat, menelurkan ide serta gagasan, maka harus berlandaskan Al Qur’an dan sunnah Rasul, bukan sekedar beropini atau berbicara tanpa punya landasan yang jelas. Dan untuk memudahkan pemahaman terhadap manhaj berpikir sesuai Al Qur’an dan Sunnah, Imam Hasan Al Banna telah memudahkan kita dengan formulasi Ushul Isrin. Para kader dan aktifis da’wah harus Istis’ab dan memiliki pendalaman tentang ushul isrin. Karena semua permasalahan yang kita hadapi dalam berbagai bidang kehidupan, solusinya ada dalam Ushul Isrin.
Ikhwah fillah. Ushul isrin harus dikaji secara mendalam dan komperhensif lalu sebagai kader dan aktifis kita berusaha mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan kaidah-kaidah yang terangkum dalam dua puluh prinsip (intisari dari Al Qur’an dan Sunnah Rasul) adalah salah satu ijtihad abad yang ke-20 yang dilakukan oleh Imam Hasan Al Banna yang tidak dilakukan oleh ulama terdahulu. Di dalamnya terkait dengan berbagai macam permasalahan kehidupan termasuk mengenai jama’ah, khilafiyah, pemikiran dan lainnya. Artinya kalau kita ingin menjaga konsep da’wah ini, maka semuanya telah terangkum dalam ushul isrin. Bahkan seluruh tulisan atau karya ilmiah yang ditulis oleh para qiyadah da’wah atau masyakhi da’wah, semuanya mengambil rujukan dari ushul isrin. Kita dapat membaca buku yang ditulis oleh syeh Musthofa Masyhur semua rujukannya adalah ushul isrin. Dan ketika Yusuf Qardhawi menulis dalam konsep berpikir manhaj, rujukannya adalah ushul isrin. Jadi, bukan sekedar mengetahui 20 prinsip, tapi yang lebih penting bagaimana kita harus memahami dan mengaktualisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Masalah ini dapat diatasi dengan Ta’shil Al Fikri (internalisasi tentang fikroh).
Ketiga, Ta’shil Haroki (kemurnian berharoki). Berbicara tentang da’wah adalah gerak aktifitas atau kerja. Bukan wacana apalagi gosip. Da’wah adalah haroki - bekerja aktif. Maka tidak asholah dan tidak murni lagi (palsu) kalau masih ada kader da’wah dan aktifis yang tidak aktif. Tidak Asholah lagi jika hanya pandai berwacana tapi tidak ada kontribusi atau pastisipasi dalam da’wah. Karena orisinilitas da’wah di antaranya ta’shil haroki (bergerak dan terus bekerja), bukan banyak debat atau diskusi tapi tanpa berbuat dan berkarya untuk da’wah. Yang harus selalu menjadi pertanya para kader dan aktifis adalah, “Apa kontribusi saya dalam da’wah?” Bukti kalau kader dan aktifis masih asholah dalam da’wah adalah memiliki peran atau kontribusi aktif serta terlibat penuh dalam partisipasi aktif. Jadi, kalau masih ada kader yang tidak terlibat, tidak aktif maka ta’shil harokinya tidak berjalan dengan baik.
Ikhwah fillah… da’wah adalah haroki. Hal ini terbukti dalam sejarah kehidupan nabi dan para sahabatnya. Rasulullah saw selama di Madinah bersama para sahabat melakukan peperangan selama 100x. Di Madinah 10 tahun. Mulai perang tahun ke-2. Seratus kali antara yang dipimpin oleh Rasul dan dipimpin oleh sabahabat, antara yang terjadi perang dan yang tidak terjadi perang, dan antara perang yang besar dan yang kecil. Hal ini menunjukkan adanya mobilitas yang luar biasa, dan tanpa ada kesempatan untuk istirahat, bersantai – santai bagi kader da’wah. Untuk kondisi kita saat ini, tidak ada lagi kesempatan untuk nonton bola, nonton Film, berdebat mengenai hal yang remeh, dan berpikir yang “aneh – aneh” tapi semuanya dalam kondisi siaga penuh dalam menjalankan tugas da’wah.
Ikhwah fillah. Kalau kita perhatikan dengan baik bahasa – bahasa Al Qur’an, sebetulnya tidak mengenal istilah uzur. Dalam da’wah ini berangkat ke medan perang dalam keadaan ringan, berat, susah, atau mudah. Semua mukmin harus berangkat semua, sehingga ketika ada sebagian sahabat yang uzur (berhalangan) dalam arti tidak dapat memenuhi panggilan da’wah karena tidak punya dana, kendaraan, sarana, atau fasilitas, mereka tidak kemudian santai mengatakan Alhamdulillah. Hal ini berbeda dengan kondisi sebagian kader dan aktifis kita yang malah bersyukur, dan mengucapkan Al hamdulillah ketika mendengar liqo diliburkan. Para sahabat yang tidak dapat andil dalam perjuangan (tidak hadir), dan tidak punya kontribusi mengalami kesedihan yang luar biasa meski secara hukum syar’i tidak ada beban dosa. Tapi secara moral (psikologi) sebagai kader da’wah (aktifis da’wah), ketika tidak terlibat atau tidak berkontribusi tetap ada beban moral walau tidak berdosa. Karenanya pada prinsipnya keterlibatan dalam da’wah adalah pastisipasi aktif dan terlibat secara nyata dan punya kontribusi terus sehingga mereka bersedih.
Dan tiada pula berdosa orang – orang yang datang kepadamu, supaya engkau bawa mereka (pergi berperang), lalu engkau berkata kepadanya: Aku tiada memperoleh belanja untuk membawa kamu” Beberapa orang sahabat datang kepada Rasulullah meminta untuk difasilitasi untuk diangkut, diberi kendaraan untuk pergi ke medan perang, tapi kata Rasul mengatakan, “Saya tidak bisa lagi menfasilitasi kalian karena sudah sangat terbatas. Sudah tidak ada lagi dana, kendaraan, atau fasilitas. Kalian tinggal saja di rumah kalian, karena kalian tidak ada uzur (dosa) bagi kalian.” Dan ketika Rasulullah mengatakan hal tersebut, air mata mereka mengalir sedih.
mengapa demikian? Karena mereka tidak bisa bergabung atau tidak berkontribusi. Adalah kerugian yang sangat besar ketika kita sebagai kader da’wah kemudian kita tidak punya kontribusi, tidak terlibat secara aktif. Karena orang lain mendapatkan pahala, atau kesempatan untuk bersejajar dengan para nabi, masuk surga, kemudian kita tertinggal. Ini yang harus dipahami betul oleh para kader dan aktifis. Bahwa kita harus bergerak atau sibuk untuk bekerja urusan – urusan da’wah.
Sebagai contoh, Abu Dzar Al Ghifari secara moral ada beban moral ketika tidak hadir, tidak berangkat, tidak terlibat, dan tidak punya peran walau dalam keadaan uzur. Karena ketika sudah mengikrarkan diri sebagai kader da’wah, maka harus berangkat. Artinya ketika sudah menyatakan diri sebagai kader da’wah, maka harus berangkat atau terlibat dalam setiap aktifitas da’wah. Selama ada modal iman, ada modal motivasi, akal sehat, pikiran sehat, harus berangkat walaupun harus jalan kaki 700 meter dari Madinah ke Syam. Abu Dzar Al Ghifari berjalan sendirian, di bawah panas terik matahari. Kenapa? Karena beliau memahami betul, bahwa sebagai aktifis da’wah dituntut untuk memberikan loyalitas keterlibatan aktif dalam perjuangan.
Ta’shil Haroki (kemurnian dalam berharaki), kader dan aktifis harus terus bergerak aktif dan produktif. Apalagi kita dituntut untuk lebih cepat atau agresif untuk kemenangan da’wah. Tidak mungkin kita akan meraih 20% menjadi 3 besar, kalau kita sendiri masih berat untuk melangkah. Untuk melangkah cepat saja belum tentu bisa memenangkan da’wah apalagi lambat. Kader da’wah harus melompat cepat dan agresif untuk melakukan ekspansi jika memiliki cita – cita mulia yaitu memenangkan da’wah..
Ikhwah fillah. Ingatlah baik – baik pesan Imam Hasan Al Banna. Beliau mengatakan, “Tidak layak untuk da’wah ini kecuali orang yang siap membela da’wah dengan segala potensi yang ia miliki.” Artinya sebagai kader dan aktifis kita harus siap berkorban dengan waktu, tenaga, pikiran, harta benda, istirahat, darah, nyawa, dan lainnya. Karena da’wah adalah darah daging bagi kader – kader da’wah yang layak mendapat kemenangan dari Allah. Karenanya keterlibatan dalam da’wah adalah kerja. Apalagi ketika kita di hadapkan pada banyak fitnah, banyak godaan, cobaan, huru hara, dan gelap gulita. Kita hidup dalam kondisi zaman yang rusak, yang bisa jadi bertambah kerusakannya jika eksistensi da’wah terancam karena sikap pasif para kader dan aktifis. Banyaknya fitnah, huru hara dan kegelapan bisa menjadikan seseorang pagi hari dalam keadaan mukmin sore hari ia menjadi kafir, sore masih mukmin pagi hari menjadi kafir. Apa yang Rasulullah gambarkan kini benar – benar mulai menunjukkan gejala atau indikasi kerusakan yang hebat, dimana kita menghadapi kekacauan yang luar biasa. Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan oleh kader – kader terbaik da’wah untuk mengantisipasi hal ini? Tidak ada pilihan untuk menghindari hal tersebut agar selamat kecuali dengan amal. Segera berbuat atau beramal sebelum datangkan kekacauan yang luar biasa dan lebih besar lagi. Karena saat itu umat akan sulit untuk membedakan yang hak dan yang batil.
Ikhwah Fillah,
Haroki harus terorganisir karena da’wah akan produktif dan haroki dapat berjalan efektif jika ia bergerak dalam struktur. Para kader dan aktivis harus menghindari melakukan amal – amal yang liar. Amalnya bagus, baik, tapi liar karena tidak masuk dalam struktur organisasi, dan amal ini tidak banyak manfaatnya karena program – program yang sifatnya liar. Dan kita sering kali bersikap melakukan pembenaran terhadap amal – amal liar dengan beragumen, “Ini kan da’wah juga…,” sebagai kader da’wah kita harus ingat, cara – cara yang liar hanya berdampak sekejap dan berbahaya bagi da’wah. Padahal yang kita inginkan adalah da’wah yang terstruktur dan teorganisir dalam bingkai kebijakan umum atau strategi umum. Bukan hanya sekedar bergerak liar di luar struktur. Tapi yang teratur, dan tertib dalam aturan yang dibuat oleh system. Kalau sekedar bergerak, maka akan lebih banyak mudharotnya bagi da’wah.
Ikhwah fillah…. ilustrasi amal liar yang berada di luar struktur diibaratkan dengan Air. Air kalau tidak mengalir ke kanal – kanal yang telah dipersiapkan, ia akan merusak jalanan. Aspal berlubang, lalu akan menimbulkan kemacetan akibat banjir bahkan dapat menjebolkan tambul. Begitu juga ketika kita berharokah yang tidak terorganisir, tidak tertib. Cenderung hal ini akan merusak. Seperti aliran air yang tidak mengalir pada kanalnya. Karena itu, gerak yang kita lakukan harus mengacu pada konsep tarbiyah. Artinya jangan karena kita aktif lalu lupa pada tarbiyah. Ada sebagian ikhwah kita yang aktif di berbagai lembaga, instansi non pemerintah seperti Ormas, LSM, Yayasan dan organisasi lainnya, tapi dia lupa mentarbiyah dirinya sendiri. Padahal amal haroki baru akan banyak faedah manakala berangkat dari tarbiyah. Karena dengan tarbiyah kita selalu diingatkan tentang keikhlasan, kesabaran, istiqomah agar hati tetap terjaga.
Yang sangat disayangkan, sebagian ikhwah kita yang aktif luar biasa terkadang tidak mencerminkan harokah. Artinya mengajak orang melakukan perubahan, berbuat baik, sementara perilaku hidupnya jauh dari nilai - nilai yang dia emban. Yakni bertolak belakang dengan apa yang disampaikan kepada masyarakat. Dia membicarakan tentang tarbiyah, sementara dia sendiri tidak tertarbiyah dengan baik. Mengajak kepada da’wah tapi lalai untuk mengimplementasikan nilai da’wah dalam kepribadiannya sebagai kader da’wah. Karena itu haroki harus ada dalam kendali tarbiyah.
Ikhwah fillah, ingatkan bagaimana dialog sahabat Anshor dengan Rasulullah, “Ya Rasulullah, jika engkau kehendaki, kami siap dengan pedang – pedang kami untuk menghadapi kaum musyrikin saat ini juga.” Ketika rahasia pertemuan Rasulullah dengan para sahabat Anshor diketahui atau dibocorkan, maka Rasulullah mengatakan, “Lebih baik kamu pulang ke kampung kamu masing – masing menyebarkan da’wah, memperbanyak kader, memperluas da’wah dan kita belum waktunya untuk melakukan ini dan pada saatnya tiba kita akan melakukan ini.”
Keberhasilan kader dan aktifis menjaga Ta’shil Ad Da’awi akan memberikan kekuatan yang sangat penting dalam takwin (pengembangan) dan kemenangan da’wah. Karenanya kader dan aktivis perlu memperhatikan hal-hal yang prinsip dalam Ta’shil Da’awi sehingga asholah da’wah tetap menjaga. Ta’shil Ad Da’awi memiliki landasan yang kuat, dan kalau diringkas akan menjadi tiga bagian, yaitu:
Pertama, Ta’shil Syar’i kemurnian syariat). Kader dan aktifis harus kembali kepada kemurnian dan keutuhan syariat. Tidak ada fiquh da’wah tanpa fiquh syari’ah, karenanya ruang lingkup gerak da’wah harus berada dalam bingkai syari’at. Jadi, ketika kita bicara tentang syariat tidak lebih pada Ahkamul khomsah (hukum yang lima), yaitu halal, haram, wajib, makruh, dan sunnah. Setiap gerak para kader dan aktifis harus berada dalam frame Ahkamu syariah (hukum syariah) . Apakah hal tersebut wajib, sunnah, haram, makruh atau mubah.
Ketika berbicara tentang ta’shil syar’i, tidak bisa lepas dari fiquh Aulawiyah Syari’ah (skala prioritas dalam syari’ah), dengan sikap yang haram (tinggalkan), mubah (pilih sesuai dengan kemaslahatan), makruh (hindari), sunnah (tingkatkan). Dengan skala prioritas ini kita tidak disibukkan oleh hal yang mubah dengan meremehkan kewajiban atau melaksanakan yang sunnah tanpa melakukan kewajiban. Artinya, sikap yang tepat dalam menjalankan syariat adalah, memulai dari yang wajib. Jika wajib ain harus diutamakan baru menjalankan kewajiban yang bersifat kifayyah, baru menjalankan sunnah. Sunnah muakkadah lebih didahulukan daripada sunnah mandubah, baru melakukan yang mubah sebagai pilihan terakhir.
Gerak para kader dan aktifis harus terus berada dalam frame hukum syariah yang terikat dengan fiquh prioritas. Dalam konteks sekarang, kebiasaan menonton bola atau Film hukumnya bisa makruh karena menghabiskan waktu pada hal yang tidak berguna bahkan kita bisa terjebak pada haram. Dan dalam surat Al Mukminun Allah menggambarkan mengenai sifat orang mukmin yang mendapatkan kemenangan serta mewarisi surga Firdaus adalah salah satunya menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. Ingat ikhwah fillah sibuk memperdebatkan hukum tentang celana di bawah mata kaki atau diatas mata kaki adalah pembahasan yang sia-sia dan menghabiskan waktu jika di belahan bumi lain banyak saudara-saudara kita dibantai, diblokade, dan terdholimi oleh musuh-musuh islam.
Kedua, Ta’shil Al Fikri (keaslian fikroh). Kader dan aktifis harus menjaga kemurnian dan orisinilitas fikroh, konsep atau manhaj. Jadi, ketika kader dan aktifis hendak berpikir, mengemukakan wacana, berpendapat, menelurkan ide serta gagasan, maka harus berlandaskan Al Qur’an dan sunnah Rasul, bukan sekedar beropini atau berbicara tanpa punya landasan yang jelas. Dan untuk memudahkan pemahaman terhadap manhaj berpikir sesuai Al Qur’an dan Sunnah, Imam Hasan Al Banna telah memudahkan kita dengan formulasi Ushul Isrin. Para kader dan aktifis da’wah harus Istis’ab dan memiliki pendalaman tentang ushul isrin. Karena semua permasalahan yang kita hadapi dalam berbagai bidang kehidupan, solusinya ada dalam Ushul Isrin.
Ikhwah fillah. Ushul isrin harus dikaji secara mendalam dan komperhensif lalu sebagai kader dan aktifis kita berusaha mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan kaidah-kaidah yang terangkum dalam dua puluh prinsip (intisari dari Al Qur’an dan Sunnah Rasul) adalah salah satu ijtihad abad yang ke-20 yang dilakukan oleh Imam Hasan Al Banna yang tidak dilakukan oleh ulama terdahulu. Di dalamnya terkait dengan berbagai macam permasalahan kehidupan termasuk mengenai jama’ah, khilafiyah, pemikiran dan lainnya. Artinya kalau kita ingin menjaga konsep da’wah ini, maka semuanya telah terangkum dalam ushul isrin. Bahkan seluruh tulisan atau karya ilmiah yang ditulis oleh para qiyadah da’wah atau masyakhi da’wah, semuanya mengambil rujukan dari ushul isrin. Kita dapat membaca buku yang ditulis oleh syeh Musthofa Masyhur semua rujukannya adalah ushul isrin. Dan ketika Yusuf Qardhawi menulis dalam konsep berpikir manhaj, rujukannya adalah ushul isrin. Jadi, bukan sekedar mengetahui 20 prinsip, tapi yang lebih penting bagaimana kita harus memahami dan mengaktualisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Masalah ini dapat diatasi dengan Ta’shil Al Fikri (internalisasi tentang fikroh).
Ketiga, Ta’shil Haroki (kemurnian berharoki). Berbicara tentang da’wah adalah gerak aktifitas atau kerja. Bukan wacana apalagi gosip. Da’wah adalah haroki - bekerja aktif. Maka tidak asholah dan tidak murni lagi (palsu) kalau masih ada kader da’wah dan aktifis yang tidak aktif. Tidak Asholah lagi jika hanya pandai berwacana tapi tidak ada kontribusi atau pastisipasi dalam da’wah. Karena orisinilitas da’wah di antaranya ta’shil haroki (bergerak dan terus bekerja), bukan banyak debat atau diskusi tapi tanpa berbuat dan berkarya untuk da’wah. Yang harus selalu menjadi pertanya para kader dan aktifis adalah, “Apa kontribusi saya dalam da’wah?” Bukti kalau kader dan aktifis masih asholah dalam da’wah adalah memiliki peran atau kontribusi aktif serta terlibat penuh dalam partisipasi aktif. Jadi, kalau masih ada kader yang tidak terlibat, tidak aktif maka ta’shil harokinya tidak berjalan dengan baik.
Ikhwah fillah… da’wah adalah haroki. Hal ini terbukti dalam sejarah kehidupan nabi dan para sahabatnya. Rasulullah saw selama di Madinah bersama para sahabat melakukan peperangan selama 100x. Di Madinah 10 tahun. Mulai perang tahun ke-2. Seratus kali antara yang dipimpin oleh Rasul dan dipimpin oleh sabahabat, antara yang terjadi perang dan yang tidak terjadi perang, dan antara perang yang besar dan yang kecil. Hal ini menunjukkan adanya mobilitas yang luar biasa, dan tanpa ada kesempatan untuk istirahat, bersantai – santai bagi kader da’wah. Untuk kondisi kita saat ini, tidak ada lagi kesempatan untuk nonton bola, nonton Film, berdebat mengenai hal yang remeh, dan berpikir yang “aneh – aneh” tapi semuanya dalam kondisi siaga penuh dalam menjalankan tugas da’wah.
Ikhwah fillah. Kalau kita perhatikan dengan baik bahasa – bahasa Al Qur’an, sebetulnya tidak mengenal istilah uzur. Dalam da’wah ini berangkat ke medan perang dalam keadaan ringan, berat, susah, atau mudah. Semua mukmin harus berangkat semua, sehingga ketika ada sebagian sahabat yang uzur (berhalangan) dalam arti tidak dapat memenuhi panggilan da’wah karena tidak punya dana, kendaraan, sarana, atau fasilitas, mereka tidak kemudian santai mengatakan Alhamdulillah. Hal ini berbeda dengan kondisi sebagian kader dan aktifis kita yang malah bersyukur, dan mengucapkan Al hamdulillah ketika mendengar liqo diliburkan. Para sahabat yang tidak dapat andil dalam perjuangan (tidak hadir), dan tidak punya kontribusi mengalami kesedihan yang luar biasa meski secara hukum syar’i tidak ada beban dosa. Tapi secara moral (psikologi) sebagai kader da’wah (aktifis da’wah), ketika tidak terlibat atau tidak berkontribusi tetap ada beban moral walau tidak berdosa. Karenanya pada prinsipnya keterlibatan dalam da’wah adalah pastisipasi aktif dan terlibat secara nyata dan punya kontribusi terus sehingga mereka bersedih.
Dan tiada pula berdosa orang – orang yang datang kepadamu, supaya engkau bawa mereka (pergi berperang), lalu engkau berkata kepadanya: Aku tiada memperoleh belanja untuk membawa kamu” Beberapa orang sahabat datang kepada Rasulullah meminta untuk difasilitasi untuk diangkut, diberi kendaraan untuk pergi ke medan perang, tapi kata Rasul mengatakan, “Saya tidak bisa lagi menfasilitasi kalian karena sudah sangat terbatas. Sudah tidak ada lagi dana, kendaraan, atau fasilitas. Kalian tinggal saja di rumah kalian, karena kalian tidak ada uzur (dosa) bagi kalian.” Dan ketika Rasulullah mengatakan hal tersebut, air mata mereka mengalir sedih.
mengapa demikian? Karena mereka tidak bisa bergabung atau tidak berkontribusi. Adalah kerugian yang sangat besar ketika kita sebagai kader da’wah kemudian kita tidak punya kontribusi, tidak terlibat secara aktif. Karena orang lain mendapatkan pahala, atau kesempatan untuk bersejajar dengan para nabi, masuk surga, kemudian kita tertinggal. Ini yang harus dipahami betul oleh para kader dan aktifis. Bahwa kita harus bergerak atau sibuk untuk bekerja urusan – urusan da’wah.
Sebagai contoh, Abu Dzar Al Ghifari secara moral ada beban moral ketika tidak hadir, tidak berangkat, tidak terlibat, dan tidak punya peran walau dalam keadaan uzur. Karena ketika sudah mengikrarkan diri sebagai kader da’wah, maka harus berangkat. Artinya ketika sudah menyatakan diri sebagai kader da’wah, maka harus berangkat atau terlibat dalam setiap aktifitas da’wah. Selama ada modal iman, ada modal motivasi, akal sehat, pikiran sehat, harus berangkat walaupun harus jalan kaki 700 meter dari Madinah ke Syam. Abu Dzar Al Ghifari berjalan sendirian, di bawah panas terik matahari. Kenapa? Karena beliau memahami betul, bahwa sebagai aktifis da’wah dituntut untuk memberikan loyalitas keterlibatan aktif dalam perjuangan.
Ta’shil Haroki (kemurnian dalam berharaki), kader dan aktifis harus terus bergerak aktif dan produktif. Apalagi kita dituntut untuk lebih cepat atau agresif untuk kemenangan da’wah. Tidak mungkin kita akan meraih 20% menjadi 3 besar, kalau kita sendiri masih berat untuk melangkah. Untuk melangkah cepat saja belum tentu bisa memenangkan da’wah apalagi lambat. Kader da’wah harus melompat cepat dan agresif untuk melakukan ekspansi jika memiliki cita – cita mulia yaitu memenangkan da’wah..
Ikhwah fillah. Ingatlah baik – baik pesan Imam Hasan Al Banna. Beliau mengatakan, “Tidak layak untuk da’wah ini kecuali orang yang siap membela da’wah dengan segala potensi yang ia miliki.” Artinya sebagai kader dan aktifis kita harus siap berkorban dengan waktu, tenaga, pikiran, harta benda, istirahat, darah, nyawa, dan lainnya. Karena da’wah adalah darah daging bagi kader – kader da’wah yang layak mendapat kemenangan dari Allah. Karenanya keterlibatan dalam da’wah adalah kerja. Apalagi ketika kita di hadapkan pada banyak fitnah, banyak godaan, cobaan, huru hara, dan gelap gulita. Kita hidup dalam kondisi zaman yang rusak, yang bisa jadi bertambah kerusakannya jika eksistensi da’wah terancam karena sikap pasif para kader dan aktifis. Banyaknya fitnah, huru hara dan kegelapan bisa menjadikan seseorang pagi hari dalam keadaan mukmin sore hari ia menjadi kafir, sore masih mukmin pagi hari menjadi kafir. Apa yang Rasulullah gambarkan kini benar – benar mulai menunjukkan gejala atau indikasi kerusakan yang hebat, dimana kita menghadapi kekacauan yang luar biasa. Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan oleh kader – kader terbaik da’wah untuk mengantisipasi hal ini? Tidak ada pilihan untuk menghindari hal tersebut agar selamat kecuali dengan amal. Segera berbuat atau beramal sebelum datangkan kekacauan yang luar biasa dan lebih besar lagi. Karena saat itu umat akan sulit untuk membedakan yang hak dan yang batil.
Ikhwah Fillah,
Haroki harus terorganisir karena da’wah akan produktif dan haroki dapat berjalan efektif jika ia bergerak dalam struktur. Para kader dan aktivis harus menghindari melakukan amal – amal yang liar. Amalnya bagus, baik, tapi liar karena tidak masuk dalam struktur organisasi, dan amal ini tidak banyak manfaatnya karena program – program yang sifatnya liar. Dan kita sering kali bersikap melakukan pembenaran terhadap amal – amal liar dengan beragumen, “Ini kan da’wah juga…,” sebagai kader da’wah kita harus ingat, cara – cara yang liar hanya berdampak sekejap dan berbahaya bagi da’wah. Padahal yang kita inginkan adalah da’wah yang terstruktur dan teorganisir dalam bingkai kebijakan umum atau strategi umum. Bukan hanya sekedar bergerak liar di luar struktur. Tapi yang teratur, dan tertib dalam aturan yang dibuat oleh system. Kalau sekedar bergerak, maka akan lebih banyak mudharotnya bagi da’wah.
Ikhwah fillah…. ilustrasi amal liar yang berada di luar struktur diibaratkan dengan Air. Air kalau tidak mengalir ke kanal – kanal yang telah dipersiapkan, ia akan merusak jalanan. Aspal berlubang, lalu akan menimbulkan kemacetan akibat banjir bahkan dapat menjebolkan tambul. Begitu juga ketika kita berharokah yang tidak terorganisir, tidak tertib. Cenderung hal ini akan merusak. Seperti aliran air yang tidak mengalir pada kanalnya. Karena itu, gerak yang kita lakukan harus mengacu pada konsep tarbiyah. Artinya jangan karena kita aktif lalu lupa pada tarbiyah. Ada sebagian ikhwah kita yang aktif di berbagai lembaga, instansi non pemerintah seperti Ormas, LSM, Yayasan dan organisasi lainnya, tapi dia lupa mentarbiyah dirinya sendiri. Padahal amal haroki baru akan banyak faedah manakala berangkat dari tarbiyah. Karena dengan tarbiyah kita selalu diingatkan tentang keikhlasan, kesabaran, istiqomah agar hati tetap terjaga.
Yang sangat disayangkan, sebagian ikhwah kita yang aktif luar biasa terkadang tidak mencerminkan harokah. Artinya mengajak orang melakukan perubahan, berbuat baik, sementara perilaku hidupnya jauh dari nilai - nilai yang dia emban. Yakni bertolak belakang dengan apa yang disampaikan kepada masyarakat. Dia membicarakan tentang tarbiyah, sementara dia sendiri tidak tertarbiyah dengan baik. Mengajak kepada da’wah tapi lalai untuk mengimplementasikan nilai da’wah dalam kepribadiannya sebagai kader da’wah. Karena itu haroki harus ada dalam kendali tarbiyah.
Ikhwah fillah, ingatkan bagaimana dialog sahabat Anshor dengan Rasulullah, “Ya Rasulullah, jika engkau kehendaki, kami siap dengan pedang – pedang kami untuk menghadapi kaum musyrikin saat ini juga.” Ketika rahasia pertemuan Rasulullah dengan para sahabat Anshor diketahui atau dibocorkan, maka Rasulullah mengatakan, “Lebih baik kamu pulang ke kampung kamu masing – masing menyebarkan da’wah, memperbanyak kader, memperluas da’wah dan kita belum waktunya untuk melakukan ini dan pada saatnya tiba kita akan melakukan ini.”
Kamis, 11 Juni 2009
Pidato Obama
Ingin tahu pidato presiden Amerika Serikat Barrack Obama di Mesir?
Kami mendapatkan terjemahannya, mudah-mudahan bermanfaat buat Anda.
Silahkan download di Download Area atau di sini
Kami mendapatkan terjemahannya, mudah-mudahan bermanfaat buat Anda.
Silahkan download di Download Area atau di sini
Rabu, 10 Juni 2009
BOEDIONOMICS

Artikel ini Cuplikan dari Republika (9/6) dengan judul 'BOEDIONOMICS'
Ada tiga sektor yang menjadi fokus Boediono dalam pembangunan ekonomi ke depan. Seperti disampaikannya saat berkunjung ke redaksi Republika, Senin (8/6), di Jakarta. Boediono berusaha menyeimbangkan dua sejoli tumpuan perekonomian, hard infrastucture dan soft infrastucture.
1. Infrastuktur
Ini menjadi fokus dan kunci untuk melanjutkan pertumbuhan ekonomi. Sejak 11 tahun terakhir, sektor ini pas-pasan, bahkan tertinggal dibanding negara Asia. Sektor listrik, pembangunan jalan, kereta api, dan sarana/prasarana infrastruktur lainnya (hard infrastructure) berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
2. Pelayanan Masyarakat
Sesuai slogan pemerintah bersih, pelayanan masyarakat (soft infrastructure) menjadi poin penting berikutnya. Pengurusan tanah, KTP, dan hal remeh lainnya ternyata berimbas ke dunia usaha. Perbaikan ini harus sejalan dengan pembangunan infrastruktur fisik. Soft dan hard infrastructure merupakan dua sejoli tumpuan perekonomian.
3. Intervensi negara untuk kesejahteraan rakyat
Intervensi ini terutama ditujukan untuk kepentingan masyarakat berpenghasilan rendah. Dana APBN harus dipakai untuk keperluan masyarakat luas, seperti pembangunan jalan di wilayah pelosok, bantuan langsung tunai (BLT), PNPM, Raskin, KUR, Program Keluarga Harapan, dsb.
Bagaimana dengan Ekonomi Syariah?
"Ekonomi syariah merupakan opsi yang serius bagi ekonomi kita," kata Boediono, saat berkunjung ke redaksi Republika, Senin (8/6), di Jakarta.
Bahkan ekonomi syariah bisa menjadi kunci Indonesia keluar dari pengaruh krisis keuangan global saat ini. Salah satu sebabnya, sistem ekonomi berbasis nonribawi itu pro-sektor riil. Dibandingkan sistem ekonomi konvensional, Boediono mengakui transaksi dalam sistem ekonomi syariah dilandaskan pada kegiatan perekonomian yang konkret. Ini tentu berbeda dengan sistem konvensional yang boleh mendasarkan aktivitasnya pada transaksi derivatif.
’Kaitan dengan pembangunan di sektor riil lepas,’ katanya. Sementara itu, sistem ekonomi syariah dilandasi pada sektor riil.
Konsep bagi hasil (risk sharing) tanpa menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada debitor, menurut mantan gubernur Bank Indonesia ini, juga sebagai konsep yang mestinya diikuti perbankan konvensional.
Konsep ekonomi syariah pun tak mengenal kesenjangan antara sektor riil dan finansial. Bila di ekonomi konvensional dua sektor ini bisa berjalan tak seiring, di ekonomi syariah ada jembatan berupa bagi hasil atau sewa.
’Seringkali terjadi dana hanya berputar-putar di sistem keuangan derivatif, tanpa turun ke sektor riil. Ini tidak ter jadi di ekonomi syariah karena konsep bagi hasil itu,’ jelasnya. Bahkan, sistem bagi hasil ini telah diterapkan di proyek infrastruktur.
Melihat perkembangan saat ini, ekonomi syariah bisa berpotensi lebih besar lagi. Pertumbuhan ekonomi syariah, diukur dari perkembangan perbankan syariah saat ini, baru sekitar dua persen.
’Ekonomi syariah harus dimulai dari tingkat usaha mikro, kecil, dan menengah (UM KM),’ jelas Boediono.
Tapi, mantan menko Perekonomian ini mencermati, perkembangan ekonomi syariah jangan sebatas jor-joran pembukaan cabang perbank ansyariah di mana-mana. Pertumbuhan cabang harus diimbangi dengan kualitas layanan dan produk syariah.
’Landasan pertumbuhan ekonomi syariah harus rasional. Jangan sekadar mendirikan bank-bank perkreditan rakyat syariah, tapi nanti mati di tengah jalan. Kalau terjadi, yang rugi syariah juga. Kompetisi di antara pelaku ekonomi syariah juga harus sehat. Dan, jangan ada hambatan. Jangan juga terlalu ekstrem, nanti mandek.’
Sejak menjadi menkeu di Kabinet Gotong Royong, Presiden Megawati Soekarno putri, Boediono mengaku selalu mendukung perkembangan ekonomi syariah. Kebijakan ini ia lanjutkan ketika menduduki kursi menko Perekonomian dan gubernur Bank Indonesia. ’Saya yakin ekonomi syariah bisa menandingi ekonomi konvensional.’
Menakar Elektabilitas Pasangan Calon Presiden/Wakil Presiden
LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) telah melaksanakan Survei Telepon (Telepolling) mengenai Preferensi Politik Masyarakat Menjelang Pemilu Presiden 8 Juli 2009. Responden dari telepolling ini adalah masyarakat pengguna telepon rumah tangga di 15 kota besar di Indonesia meliputi Jakarta, Surabaya, Malang, Semarang, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Medan, Padang, Palembang, Makassar, Manado, Balikpapan, Banjarmasin, dan Denpasar.
Survei dilaksanakan dengan metoda wawancara melalui telepon, tidak dimaksudkan untuk mewakili pendapat masyarakat secara umum, melainkan mereka para pengguna telepon rumah tangga di 15 kota besar di Indonesia yang menjadi lokasi survei sebagaimana disebutkan di atas. Pengumpulan data dilaksanakan pada 3 – 4 Juni, berhasil menjaring sebanyak 1.994 responden yang ditentukan secara acak sistematis (systematic random sampling) berdasarkan buku telepon residensial yang diterbitkan PT Telkom. Ambang kesalahan (margin of error) dari survei ini diperkirakan +/- 2% pada tingkat kepercayaan 95%.
Berikut ini adalah temuan pokok telepolling LP3ES.
1. Elektabilitas Pasangan Capres/Cawapres
1.1. Pasangan SBY-Boediono Masih Unggul
Memasuki pekan kedua bulan Juni, dimana Pemilu Presiden tinggal tersisa 30 hari lagi, pasangan SBY-Boediono masih memimpin dengan 54,9% dukungan. Angka keterpilihan yang diperoleh pasangan ini di 15 kota besar di Indonesia ini jauh mengungguli kedua pasangan kandidat lainnya yakni Megawati-Prabowo (9,7%) dan JK-Wiranto (6,8%). Namun demikian, perolehan ini dimungkinkan berubah karena masih terdapat sekitar 27% masyarakat yang tidak terbuka dengan pilihannya.
Grafik 1).
1.2. SBY, JK, dan Prabowo sebagai Figur Penentu Pilihan
Selalu ada figur kunci diantara ketiga pasangan kandidat Capres/Cawapres yang ada. Pada pasangan SBY-Boediono, misalnya, pilihan masyarakat yang mendukung pasangan ini lebih dikarenakan figur SBY (72,5%) ketimbang Boediono (2,2%). Demikian pula pada pasangan JK-Wiranto, mereka yang mendukung pasangan ini lebih dikarenakan figur JK (63,2%) ketimbang Wiranto (7,%). Sementara pada pasangan Megawati-Prabowo, dukungan terhadap kedua figur relatif berimbang, meskipun nampak bahwa figur Prabowo lebih menjadi penentu pilihan (35,4%) ketimbang Megawati (32,3%). (Grafik 2).
1.3. Pendukung Partai Demokrat Solid, Golkar dan PDI-P Terbelah
Jika dilihat dari partai-partai utama penyokong koalisi pasangan Capres/Cawapres, nampak bahwa pendukung Partai Demokrat di 15 kota solid (79,9%) akan memilih SBY-Boediono. Hal yang sama tidak terjadi pada pendukung Partai Golkar dan PDI-P yang mengalami polarisasi pilihan. Diantara pendukung Partai Golkar, misalnya, kurang dari separuh (44,9%) yang akan memilih JK-Wiranto, sementara pendukung PDI-P yang akan memilih Mega-Prabowo ada sebanyak 58%. Dalam situasi ketidaksolidan para pendukung partai ini, pasangan SBY-Boediono diuntungkan karena “menerima” limpahan suara yang cukup signifikan dari pendukung Golkar (25,2%) dan PDI-P (17,2%).
Polarisasi pilihan juga terjadi pada pendukung PKS dan PAN. Meskipun pilihan terbanyak ditujukan kepada SBY-Boediono, tetapi pasangan JK-Wiranto juga mendapatkan dukungan yang relatif signifikan dari kedua partai pendukung koalisi SBY-Boediono ini. (Tabel 1).
2. Citra dan Latarbelakang Atribut Pasangan Kandidat
2.1. Masyarakat menilai Pasangan SBY-Boediono: Programnya paling berpihak rakyat, paling bersih KKN, dan paling peduli rakyat kecil.
Survei LP3ES hendak menjaring pandangan masyarakat terhadap ketiga pasangan Capes/Cawapres dalam kaitannya dengan program yang pro-rakyat, kebersihan dari KKN, dan sikap peduli rakyat kecil. Hasil survei menunjukkan, masyarakat pengguna telepon di 15 kota menilai bahwa pasangan SBY-Boediono unggul atas ketiga citra tersebut; dimana pasangan ini mereka nilai sebagai pasangan yang programnya paling berpihak kepada rakyat, paling bersih dari KKN, dan paling mencerminkan sikap peduli terhadap rakyat kecil dibandingkan kedua pasangan Capres/Cawapres lainnya. (Grafik 3).
2.2. Sejumlah Isu mengenai Neolib, Kombinasi Jawa-Luar Jawa dan Istri-Istri Pasangan yang Berjilbab Tidak Mempengaruhi Pilihan
Masyarakat pengguna telepon di 15 kota juga tidak terpengaruh dengan sejumlah isyu yang beredar terkait dengan latar-belakang padangan kandidat, seperti isyu kombinasi Jawa-Luar Jawa, istri-istri yang berjilbab, dan paham ekonomi liberal (neolib); meskipun untuk isyu yang terakhir ini komposisi antara yang terpengaruh atau tidak terpengaruh hampir berimbang –selisih 10,3 persen poin.
(Grafik 4).
Jika dikaitkan dengan pilihan terhadap pasangan Capres/Cawapres, nampak bahwa mereka yang memilih pasangan JK-Wiranto dan Mega-Prabowo adalah mereka cenderung menimbang isyu paham ekonomi liberal (neolib) dalam menentukan pilihannya. Sementara untuk isu istri-istri yang berjilbab, pada umumnya tidak menjadi pertimbangan diantara pendukung Capres/Cawapres dalam menentukan pilihan, bahkan diantara pendukung pasangan JK-Wiranto sekalipun. Demikian pula dengan isyu mengenai latarbelakang Jawa-Luar Jawa, juga tidak menjadi pertimbangan diantara mereka. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ketiga isu ini –terutama mengenai istri-istri yang berjilbab dan kombijasi Jawa-Luar Jawa, merupakan isu yang kontraproduktif. (Grafik 5).
3. Penilaian terhadap Kinerja SBY-JK dan Pilihan Politik Masyarakat
3.1. Kinerja SBY-JK dinilai relatif baik oleh Masyarakat
Kinerja SBY-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini dinilai relatif baik oleh masyarakat pengguna telepon di 15 kota, meskipun selang kepuasan mereka terhadap SBY sebagai Presiden relatif lebih tinggi (72,2%) dibandingkan JK sebagai Wakil Presiden (46,5%). (Grafik 6).
Lalu, bagaimana sebaran pilihan politik mereka? Mereka yang puas baik terhadap kinerja SBY maupun JK sebagian besar (60,1%) memilih pasangan SBY-Boediono. Mereka yang tidak puas terhadap SBY tetapi puas terhadap JK cenderung akan memilih JK-Wiranto (39%) dan Mega-Prabowo (28,6%). Yang puas terhadap kinerja SBY tapi tidak puas kinerja JK akan memilih SBY-Boediono (79,6%). Yang mengejutkan, diantara mereka yang tidak puas baik kepada SBY maupun JK, pasangan SBY-Boediono juga mendapatkan dukungan yang signifikan (25,9%) meskipun dukungan tertinggi kelompok ini mengalir kepada Mega-Prabowo (28,6%). (Grafik 7). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mereka tidak puas terhadap kinerja SBY-JK tetapi ketika dihadapkan pada pilihan figur-figur pasangan yang terbatas, SBY-Boediono kembli mereka timbang sebagai Capres/Cawapres pilihan selain Mega-Prabowo.
3.2. Pilihan Politik berdasarkan Kondisi Ekonomi
Jika pada Pemilu Legislatif April 2009 lalu kondisi ekonomi memengaruhi pilihan, dimana mereka yang merasa kondisi ekonominya lebih baik cenderung memilih Partai Demokrat dan sebaliknya yang kondisi ekonominya memburuk cenderung memilih PDIP; pilihan politik masyarakat untuk Pemilu Presiden nampaknya berbeda. Hasil survei menunjukkan bahwa pasangan SBY-Boediono mendapatkan dukungan yang relatif merata baik dari mereka yang kondisi ekonominya membaik, sama saja, atau buruk. (Grafik 8).
Untuk informasi lebih lanjut harap menghubungi:
Fajar Nursahid, Kepala Divisi Penelitian LP3ES
0815-8049385 / (021) 567-4211, fajar@lp3es.or.id
sumber: www.lp3es.or.id
Untuk melihat hasil Telepolling lengkap, silahkan download di sini
Survei dilaksanakan dengan metoda wawancara melalui telepon, tidak dimaksudkan untuk mewakili pendapat masyarakat secara umum, melainkan mereka para pengguna telepon rumah tangga di 15 kota besar di Indonesia yang menjadi lokasi survei sebagaimana disebutkan di atas. Pengumpulan data dilaksanakan pada 3 – 4 Juni, berhasil menjaring sebanyak 1.994 responden yang ditentukan secara acak sistematis (systematic random sampling) berdasarkan buku telepon residensial yang diterbitkan PT Telkom. Ambang kesalahan (margin of error) dari survei ini diperkirakan +/- 2% pada tingkat kepercayaan 95%.
Berikut ini adalah temuan pokok telepolling LP3ES.
1. Elektabilitas Pasangan Capres/Cawapres
1.1. Pasangan SBY-Boediono Masih Unggul
Memasuki pekan kedua bulan Juni, dimana Pemilu Presiden tinggal tersisa 30 hari lagi, pasangan SBY-Boediono masih memimpin dengan 54,9% dukungan. Angka keterpilihan yang diperoleh pasangan ini di 15 kota besar di Indonesia ini jauh mengungguli kedua pasangan kandidat lainnya yakni Megawati-Prabowo (9,7%) dan JK-Wiranto (6,8%). Namun demikian, perolehan ini dimungkinkan berubah karena masih terdapat sekitar 27% masyarakat yang tidak terbuka dengan pilihannya.
Grafik 1).
1.2. SBY, JK, dan Prabowo sebagai Figur Penentu Pilihan
Selalu ada figur kunci diantara ketiga pasangan kandidat Capres/Cawapres yang ada. Pada pasangan SBY-Boediono, misalnya, pilihan masyarakat yang mendukung pasangan ini lebih dikarenakan figur SBY (72,5%) ketimbang Boediono (2,2%). Demikian pula pada pasangan JK-Wiranto, mereka yang mendukung pasangan ini lebih dikarenakan figur JK (63,2%) ketimbang Wiranto (7,%). Sementara pada pasangan Megawati-Prabowo, dukungan terhadap kedua figur relatif berimbang, meskipun nampak bahwa figur Prabowo lebih menjadi penentu pilihan (35,4%) ketimbang Megawati (32,3%). (Grafik 2).
1.3. Pendukung Partai Demokrat Solid, Golkar dan PDI-P Terbelah
Jika dilihat dari partai-partai utama penyokong koalisi pasangan Capres/Cawapres, nampak bahwa pendukung Partai Demokrat di 15 kota solid (79,9%) akan memilih SBY-Boediono. Hal yang sama tidak terjadi pada pendukung Partai Golkar dan PDI-P yang mengalami polarisasi pilihan. Diantara pendukung Partai Golkar, misalnya, kurang dari separuh (44,9%) yang akan memilih JK-Wiranto, sementara pendukung PDI-P yang akan memilih Mega-Prabowo ada sebanyak 58%. Dalam situasi ketidaksolidan para pendukung partai ini, pasangan SBY-Boediono diuntungkan karena “menerima” limpahan suara yang cukup signifikan dari pendukung Golkar (25,2%) dan PDI-P (17,2%).
Polarisasi pilihan juga terjadi pada pendukung PKS dan PAN. Meskipun pilihan terbanyak ditujukan kepada SBY-Boediono, tetapi pasangan JK-Wiranto juga mendapatkan dukungan yang relatif signifikan dari kedua partai pendukung koalisi SBY-Boediono ini. (Tabel 1).
2. Citra dan Latarbelakang Atribut Pasangan Kandidat
2.1. Masyarakat menilai Pasangan SBY-Boediono: Programnya paling berpihak rakyat, paling bersih KKN, dan paling peduli rakyat kecil.
Survei LP3ES hendak menjaring pandangan masyarakat terhadap ketiga pasangan Capes/Cawapres dalam kaitannya dengan program yang pro-rakyat, kebersihan dari KKN, dan sikap peduli rakyat kecil. Hasil survei menunjukkan, masyarakat pengguna telepon di 15 kota menilai bahwa pasangan SBY-Boediono unggul atas ketiga citra tersebut; dimana pasangan ini mereka nilai sebagai pasangan yang programnya paling berpihak kepada rakyat, paling bersih dari KKN, dan paling mencerminkan sikap peduli terhadap rakyat kecil dibandingkan kedua pasangan Capres/Cawapres lainnya. (Grafik 3).
2.2. Sejumlah Isu mengenai Neolib, Kombinasi Jawa-Luar Jawa dan Istri-Istri Pasangan yang Berjilbab Tidak Mempengaruhi Pilihan
Masyarakat pengguna telepon di 15 kota juga tidak terpengaruh dengan sejumlah isyu yang beredar terkait dengan latar-belakang padangan kandidat, seperti isyu kombinasi Jawa-Luar Jawa, istri-istri yang berjilbab, dan paham ekonomi liberal (neolib); meskipun untuk isyu yang terakhir ini komposisi antara yang terpengaruh atau tidak terpengaruh hampir berimbang –selisih 10,3 persen poin.
(Grafik 4).
Jika dikaitkan dengan pilihan terhadap pasangan Capres/Cawapres, nampak bahwa mereka yang memilih pasangan JK-Wiranto dan Mega-Prabowo adalah mereka cenderung menimbang isyu paham ekonomi liberal (neolib) dalam menentukan pilihannya. Sementara untuk isu istri-istri yang berjilbab, pada umumnya tidak menjadi pertimbangan diantara pendukung Capres/Cawapres dalam menentukan pilihan, bahkan diantara pendukung pasangan JK-Wiranto sekalipun. Demikian pula dengan isyu mengenai latarbelakang Jawa-Luar Jawa, juga tidak menjadi pertimbangan diantara mereka. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ketiga isu ini –terutama mengenai istri-istri yang berjilbab dan kombijasi Jawa-Luar Jawa, merupakan isu yang kontraproduktif. (Grafik 5).
3. Penilaian terhadap Kinerja SBY-JK dan Pilihan Politik Masyarakat
3.1. Kinerja SBY-JK dinilai relatif baik oleh Masyarakat
Kinerja SBY-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini dinilai relatif baik oleh masyarakat pengguna telepon di 15 kota, meskipun selang kepuasan mereka terhadap SBY sebagai Presiden relatif lebih tinggi (72,2%) dibandingkan JK sebagai Wakil Presiden (46,5%). (Grafik 6).
Lalu, bagaimana sebaran pilihan politik mereka? Mereka yang puas baik terhadap kinerja SBY maupun JK sebagian besar (60,1%) memilih pasangan SBY-Boediono. Mereka yang tidak puas terhadap SBY tetapi puas terhadap JK cenderung akan memilih JK-Wiranto (39%) dan Mega-Prabowo (28,6%). Yang puas terhadap kinerja SBY tapi tidak puas kinerja JK akan memilih SBY-Boediono (79,6%). Yang mengejutkan, diantara mereka yang tidak puas baik kepada SBY maupun JK, pasangan SBY-Boediono juga mendapatkan dukungan yang signifikan (25,9%) meskipun dukungan tertinggi kelompok ini mengalir kepada Mega-Prabowo (28,6%). (Grafik 7). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mereka tidak puas terhadap kinerja SBY-JK tetapi ketika dihadapkan pada pilihan figur-figur pasangan yang terbatas, SBY-Boediono kembli mereka timbang sebagai Capres/Cawapres pilihan selain Mega-Prabowo.
3.2. Pilihan Politik berdasarkan Kondisi Ekonomi
Jika pada Pemilu Legislatif April 2009 lalu kondisi ekonomi memengaruhi pilihan, dimana mereka yang merasa kondisi ekonominya lebih baik cenderung memilih Partai Demokrat dan sebaliknya yang kondisi ekonominya memburuk cenderung memilih PDIP; pilihan politik masyarakat untuk Pemilu Presiden nampaknya berbeda. Hasil survei menunjukkan bahwa pasangan SBY-Boediono mendapatkan dukungan yang relatif merata baik dari mereka yang kondisi ekonominya membaik, sama saja, atau buruk. (Grafik 8).
Untuk informasi lebih lanjut harap menghubungi:
Fajar Nursahid, Kepala Divisi Penelitian LP3ES
0815-8049385 / (021) 567-4211, fajar@lp3es.or.id
sumber: www.lp3es.or.id
Untuk melihat hasil Telepolling lengkap, silahkan download di sini
Langganan:
Postingan (Atom)